Resensi Buku "Kunjungan Seorang Sahabat Pena"

On Monday, February 13, 2012 0 comments


Resensi Buku
A . Pendahuluan

1. Judul                                               : ”Kunjungan Seorang Sahabat Pena”
2. Penulis                                             : A. Sulaiman Sadik
3. Penerbit                                           : Mataram Agung
4. Kota penerbit                                  : Jakarta
5. Tahun penerbit                                : 1996
6. Cetakan                                           : Pertama
7. Tebal                                               : 72 halaman
8. Setting lay out, film, cetak offset       : Percetakan Offset Mataram Agung
9. Peresensi                                         : Uswatun Karimah dan kawan - kawan

B . Isi

            Buku ini menceritakan tentang anak yang bernama Hardiyan dan sahabatnya. Pada suatu hari ada sepeda montor memasuki gang kecil yang menuju rumah Hardiyan, padahal di mulut gang sudah terpampang papan kecil dengan tulisan “Semua Kendaraan Dilarang Masuk”. Ternyata dia adalah pak pos yang mengantarkan surat kepada Hardiyan. Surat itu adalah surat balasan dari Latif. Latif menyatakan bahwa dia akan ke rumah Hardiyan besok.
            Keesokan harinya Hardiyan menunggu Latif di mulut gang. Latif pun dating, lalu mereka saling berpelukan. Latif akan menginap, tetapi Pak Parman ayah Latif akan ke Surabaya.
            Suatu saat, Latif dan Hardiyan akan berlayar menggunakan “Jukung” yaitu perahu kecil yang bercadik. Mereka pergi bersama Ali. Ali adalah sepupu Hardiyan.Mereka bertiga bercerita panjang lebar, mulai bagan termasuk salah satu alat penangkap ikan, bagan yang lebih dekat dengan pantai jaringnya dinamakan jermal, penangkap ikan dinamakan sero, jaring klitik juga bisa digunakan untuk menangkap udang sampai pancing tonda digunakan di air dangkal. Mereka pun tak lupa mencari ikan di laut.
            Kemudian mereka sudah sampai di Pasar Pelelangan Ikan. Pasar Pelelangan Ikan Desa Telaga Biru cukup luas. Di sebelah kanannya terdapat Kantor Perikanan, sedangkan di sebelah kirinya  terdapat Perusahaan Perikanan. Sementrara itu, Pak Shodik menjelaskan kepada Latif perbedaan antara Kantor Perikanan dengan Perusahaan Perikanan, pengertian dari Dinas Perikanan bermacam-macam ikan laut dan ciri-cirinya.
            Sementara itu, lelang ikan telah berlangsung. Beberapa orang pedagang ikan sudah terlihat mengemasi ikan yang dibelinya dan hampir semua ikan telah laku terjual. Tak lama setelah itu mereka sudah berjalan pulang.
            Setelah itu, mereka berdua pergi ke rumah Pak Saleh untuk melihat budidaya Ikan Bandeng. Hardiyan bercerita bahwa ayahnya dan Pak Saleh adalah anggota “Kelompencapir Bahari”. Kemudian Pak Saleh sendiri dengan senang hati menerima mereka. Pak Saleh menjelaskan berbagai hal, antara lain tempat penyimpanan nener, balibar, tangguk, alat dari kulit kerang atau sendok, hingga berbagai hal yang berhubungan dengan budidaya Bandeng. Pak Saleh menjelaskan berbagai hal tersebut di tambak bandeng miliknya sendiri.
            Kedua anak itu tidak mampir lagi di rumah Pak Saleh melainkan terus ke pasar. Mereka melihat barang-barang yang terbuat dari benda-benda laut yang di kedai Pak Majid.
Menjelang senja mereka kembali pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Latif bertanya kepada Pak Sodik mengenai Kelompencapir Bahari. Pak Sodik pun menjelaskan bahwa Kelompencaper Bahari adalah Kelompok pendengar, pembaca dan pemirsa yang hanya untuk memberi pengetahuan kepada masyarakat di lingkungan laut. Tetapi juga bisa oleh siapa pun yang ingin mengetahui hal - hal yang berhubungan dengan laut.
Malam itu bagaikan tak pernah sepi hingga malam. Kedua sahabat tersebut terus berbincang-bincang di kamar mereka. Kadang-kadang diselingi oleh tawa yang berderai.
Sudah lima hari Latif di rumah Hardiyan. Hari keenam Latif mengajak Hardiyan menelusuri pantai. Di pantai Latif memunguti kulit kerang. Latif memungut kerang remis dan kerang dara. Kerang itu dibawa Latif pulang untuk oleh-oleh. Setelah itu mereka pulang.
Ternyata di rumah Hardiyan sudah ada Pak Parman yang datang menjemput Latif. Hardiyan tidak lupa untuk menagih janji Latif. Ternyata janji Latif adalah menceritakan tentang daerahnya yaitu daerah pengunungan, tepatnya di Pegunungan Tengger. Latif pun menceritakan semua tentang daerahnya. Setelah itu tepat pukul tiga sore Pak Parman dan Latif berpamitan untuk pulang. Hardiyan, Pak Sodik dan Bu Sodik mengantarkan mereka berdua hingga di tempat jip Pak Parman parkir. Pak Parman dan Latif bergegas menaiki mobil jipnya. Latif mengucapkan selamat tinggal secara pelan sambil melambaikan tangannya. Hardiyan masih menatap mobil tersebut hingga lenyap di belokan jalan yang berada di kampung bahari yaitu Kampung Paseseh Desa Telaga Batu Biru, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, Madura.
Latar belakang penulis mengarang cerita ini adalah menunjukkan kedekatan seorang sahabat walaupun pada awalnya mereka belum pernah bertatap muka.
Tujuan penulis membuat cerita ini adalah untuk mengajari generasi muda agar tetap berhubungan baik sesama manusia sehingga menjunjung nilai persatuan yang tinggi.
Buku ini dibentuk cerita yang dilengkapi dengan beberapa dialog. Gaya bahasanya pun sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ada beberapa buku yang isinya mirip dengan buku ini bahkan sama, namun buku ini lebih terliat nyata sehingga si pembaca seolah-olah ikut dalam suasa cerita pada buku ini.

C . Penutup

            Buku ini memiliki beberapa kelebihan. Kelebihannya yaitu buku ini menceritakan tentang sebuah persahabatan yang amat dekat. Walaupun sebelumnya belum pernah bertemu dan bertatap muka sehingga mengajari si pembaca untuk tetap bisa menjaga sosialisasi dalam kehidupan. Dalam cerita ini juga mengajarkan persatuan walaupun berbeda asal usul yaitu perkotaan dan perdesaan, karena Indonesia memiliki prinsip “Bhineka Tunggal Ika”. Buku ini juga dilengkapi glosaria sehingga dapat membantu apabila ada kosa kata yang tidak dimengerti. Bahasa yang dipakai pun merupakan bahasa baku atau sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Buku ini pun dilengkapi gambar – gambar sehingga terlihat menarik. Gambar sampulnya pun tidak kalah menariknya dengan gambar – gambar yang ada dalam buku.
            Buku ini sudah lengkap, namun gambar di dalam buku tidak diberikan warna sehingga kurang menarik.
            Buku ini juga sudah bagus, bahkan di dalam cerita sudah dilengkapi dengan gambar, namun lebih baik lagi gambar di dalam buku ini dilengkapi dengan warna. Alangkah  baiknya setiap kalangan masyarakat memiliki buku ini sebab mengajarkan nilai-nilai positif dalam kehidupan terutama mengajarkan nilai persatuan.






0 comments:

Post a Comment