Resensi Buku
A . Pendahuluan
1. Judul : ”Kunjungan Seorang
Sahabat Pena”
2. Penulis :
A. Sulaiman Sadik
3. Penerbit : Mataram Agung
4. Kota penerbit : Jakarta
5. Tahun penerbit : 1996
6. Cetakan : Pertama
7. Tebal :
72 halaman
8. Setting lay out, film, cetak offset : Percetakan Offset Mataram Agung
9. Peresensi :
Uswatun Karimah dan kawan - kawan
B . Isi
Buku
ini menceritakan tentang anak yang bernama Hardiyan dan sahabatnya. Pada suatu
hari ada sepeda montor memasuki gang kecil yang menuju rumah Hardiyan, padahal
di mulut gang sudah terpampang papan kecil dengan tulisan “Semua Kendaraan
Dilarang Masuk”. Ternyata dia adalah pak pos yang mengantarkan surat kepada
Hardiyan. Surat itu adalah surat balasan dari Latif. Latif menyatakan bahwa dia
akan ke rumah Hardiyan besok.
Keesokan
harinya Hardiyan menunggu Latif di mulut gang. Latif pun dating, lalu mereka
saling berpelukan. Latif akan menginap, tetapi Pak Parman ayah Latif akan ke
Surabaya.
Suatu
saat, Latif dan Hardiyan akan berlayar menggunakan “Jukung” yaitu perahu kecil
yang bercadik. Mereka pergi bersama Ali. Ali adalah sepupu Hardiyan.Mereka
bertiga bercerita panjang lebar, mulai bagan termasuk salah satu alat penangkap
ikan, bagan yang lebih dekat dengan pantai jaringnya dinamakan jermal, penangkap
ikan dinamakan sero, jaring klitik juga bisa digunakan untuk menangkap udang
sampai pancing tonda digunakan di air dangkal. Mereka pun tak lupa mencari ikan
di laut.
Kemudian
mereka sudah sampai di Pasar Pelelangan Ikan. Pasar Pelelangan Ikan Desa Telaga
Biru cukup luas. Di sebelah kanannya terdapat Kantor Perikanan, sedangkan di sebelah
kirinya terdapat Perusahaan Perikanan. Sementrara
itu, Pak Shodik menjelaskan kepada Latif perbedaan antara Kantor Perikanan
dengan Perusahaan Perikanan, pengertian dari Dinas Perikanan bermacam-macam
ikan laut dan ciri-cirinya.
Sementara
itu, lelang ikan telah berlangsung. Beberapa orang pedagang ikan sudah terlihat
mengemasi ikan yang dibelinya dan hampir semua ikan telah laku terjual. Tak lama
setelah itu mereka sudah berjalan pulang.
Setelah
itu, mereka berdua pergi ke rumah Pak Saleh untuk melihat budidaya Ikan Bandeng.
Hardiyan bercerita bahwa ayahnya dan Pak Saleh adalah anggota “Kelompencapir
Bahari”. Kemudian Pak Saleh sendiri dengan senang hati menerima mereka. Pak
Saleh menjelaskan berbagai hal, antara lain tempat penyimpanan nener, balibar, tangguk,
alat dari kulit kerang atau sendok, hingga berbagai hal yang berhubungan dengan
budidaya Bandeng. Pak Saleh menjelaskan berbagai hal tersebut di tambak bandeng
miliknya sendiri.
Kedua
anak itu tidak mampir lagi di rumah Pak Saleh melainkan terus ke pasar. Mereka
melihat barang-barang yang terbuat dari benda-benda laut yang di kedai Pak
Majid.
Menjelang
senja mereka kembali pulang ke rumah.
Sesampainya di
rumah, Latif bertanya kepada Pak Sodik mengenai Kelompencapir Bahari. Pak Sodik
pun menjelaskan bahwa Kelompencaper Bahari adalah Kelompok pendengar, pembaca dan
pemirsa yang hanya untuk memberi pengetahuan kepada masyarakat di lingkungan
laut. Tetapi juga bisa oleh siapa pun yang ingin mengetahui hal - hal yang
berhubungan dengan laut.
Malam itu bagaikan
tak pernah sepi hingga malam. Kedua sahabat tersebut terus berbincang-bincang
di kamar mereka. Kadang-kadang diselingi oleh tawa yang berderai.
Sudah lima
hari Latif di rumah Hardiyan. Hari keenam Latif mengajak Hardiyan menelusuri
pantai. Di pantai Latif memunguti kulit kerang. Latif memungut kerang remis dan
kerang dara. Kerang itu dibawa Latif pulang untuk oleh-oleh. Setelah itu mereka
pulang.
Ternyata di
rumah Hardiyan sudah ada Pak Parman yang datang menjemput Latif. Hardiyan tidak
lupa untuk menagih janji Latif. Ternyata janji Latif adalah menceritakan
tentang daerahnya yaitu daerah pengunungan, tepatnya di Pegunungan Tengger. Latif
pun menceritakan semua tentang daerahnya. Setelah itu tepat pukul tiga sore Pak
Parman dan Latif berpamitan untuk pulang. Hardiyan, Pak Sodik dan Bu Sodik
mengantarkan mereka berdua hingga di tempat jip Pak Parman parkir. Pak Parman
dan Latif bergegas menaiki mobil jipnya. Latif mengucapkan selamat tinggal
secara pelan sambil melambaikan tangannya. Hardiyan masih menatap mobil
tersebut hingga lenyap di belokan jalan yang berada di kampung bahari yaitu
Kampung Paseseh Desa Telaga Batu Biru, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten
Bangkalan, Madura.
Latar belakang
penulis mengarang cerita ini adalah menunjukkan kedekatan seorang sahabat
walaupun pada awalnya mereka belum pernah bertatap muka.
Tujuan penulis
membuat cerita ini adalah untuk mengajari generasi muda agar tetap berhubungan
baik sesama manusia sehingga menjunjung nilai persatuan yang tinggi.
Buku ini dibentuk
cerita yang dilengkapi dengan beberapa dialog. Gaya bahasanya pun sesuai dengan
ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ada beberapa buku yang isinya mirip
dengan buku ini bahkan sama, namun buku ini lebih terliat nyata sehingga si
pembaca seolah-olah ikut dalam suasa cerita pada buku ini.
C . Penutup
Buku
ini memiliki beberapa kelebihan. Kelebihannya yaitu buku ini menceritakan
tentang sebuah persahabatan yang amat dekat. Walaupun sebelumnya belum pernah
bertemu dan bertatap muka sehingga mengajari si pembaca untuk tetap bisa
menjaga sosialisasi dalam kehidupan. Dalam cerita ini juga mengajarkan
persatuan walaupun berbeda asal usul yaitu perkotaan dan perdesaan, karena
Indonesia memiliki prinsip “Bhineka Tunggal Ika”. Buku ini juga dilengkapi
glosaria sehingga dapat membantu apabila ada kosa kata yang tidak dimengerti. Bahasa
yang dipakai pun merupakan bahasa baku atau sesuai dengan ejaan bahasa
Indonesia yang baik dan benar. Buku ini pun dilengkapi gambar – gambar sehingga
terlihat menarik. Gambar sampulnya pun tidak kalah menariknya dengan gambar –
gambar yang ada dalam buku.
Buku
ini sudah lengkap, namun gambar di dalam buku tidak diberikan warna sehingga
kurang menarik.
Buku
ini juga sudah bagus, bahkan di dalam cerita sudah dilengkapi dengan gambar, namun
lebih baik lagi gambar di dalam buku ini dilengkapi dengan warna. Alangkah baiknya setiap kalangan masyarakat memiliki
buku ini sebab mengajarkan nilai-nilai positif dalam kehidupan terutama
mengajarkan nilai persatuan.





0 comments:
Post a Comment